Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Ah! Buat Apa Berpolitik?

Opini Oleh Syamsul Maarif Ada asap politik yang mengepul dalam tungku konstituen, sudah dipastikan pada saatnya nanti akan keluar dengan paksa, menjebol semua penghalang yang ada. akibatnya blar!!! meletus sebagaimana gunung Slamet di jawa tengah yang pernah siaga 1 atau sunami yang menimpa Jepang. Masyarakat tak menutup telinga untuk mendengar bunyi yang menggema, terkejut sudah hal yang biasa, sebab air diam tandanya dalam, begitulah kepercayaan mereka Sedang yang rame diumpakan burung dara, ditepuki tangan sekampung terbangnya pendek juga. sebenarnya tidak ada yang rame memperbincangkan Politik, sebab yang rame adalah media, masyarakat pada umumnya jenuh, melihat apalagi memcermati kondisi absuditas dagelan politik di negeri ini yang seakan-akan nilainya hanya semangkuk nasi. Oleh karena pada gholibnya masyarakat jenuh, jengah bicarakan politik, hingga ungkapan yang sering didengar adalah: Ah Politik Buat Apa? Umumnya masyarakat lebih mementingkan kerja yang tidak boleh...

Perempuan dan Hutan Kita

Opini Oleh Syamsul Maarif "Hutan gunung, sawah lautan, simpanan kekayaan, Kini ibu sedang lara, menangis (merintih) dan berdoa" Hutan gundul yang menyebabkan terjadinya bencana alam saat ini telah menjadi salah satu ancaman serius bagi keamanan dan kenyamanan manusia (human security). Pihak-pihak yang paling merasakan dampak bencana alam tersebut adalah kelompok masyarakat yang rentan, seperti perempuan dan anak-anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh the London School of Economics and Political Science terhadap 141 negara yang terkena bencana pada periode 1981-2002 juga menemukan kaitan erat antara bencana alam dan status sosial ekonomi perempuan. Bencana alam ternyata berakibat pada penurunan angka harapan hidup perempuan dan peningkatan gender gap dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan ternyata merupakan korban terbesar dari berbagai bencana alam yang terjadi. Akibatnya, terjadi peningkatan angka kemiskinan di kalangan perempuan dan semaki...

Merangsang Gaerah Pengusaha

Opini Oleh Syamsul Maarif Geliat pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pembangunan di daerah dirasa kurang adanya gairah, terutama gairah untuk meningkatkan atau melebarkan sayap usahanya. Hal ini ditandai dengan kegiatan usaha di daerah belum mampu menjawab permasalahan pengangguran dan kemiskinan dan risaunya pengusaha lokal dengan kebijakan pemerintah atas ditabuhnya gendarang perang “leizzes faire” (Asean Free Trade Area/AFTA 2010). Sementara mencermati semua bentuk usaha ekonomi yang didirikan oleh pengusaha baik dalam bentuk usaha kecil maupun besar mempunyai tujuan umum sebagaimana tercermin dalam Undang-Undang dasar 45 yaitu terwujudnya kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, dan meningkatnya kualitas manusia dan masyarakat Indonesia, sekaligus meningkatkan kemandirian sebagai bangsa. Lemahnya gairah tersebut dipahami salah satu konsekuensi logis dari lemahnya transformasi pengetahuan pengusaha dalam memadukan atau mensinergikan potensi. Dengan ...

Persenan dilingkungan Pendidikan Kita

Siapa yang menyangkal kondisi guru saat ini lebih cenderung menuntut hak sementara kewajiban mencerdaskan anak didik seakan disisihkan. Akan tetapi tidak serta merta menimpakan semua kesalahan pada guru. mengingat tugas mencerdaskan bangsa juga tugas orang tua. mereka dipersalahkan ketika keperdulian mereka lemah dalam memberikan Perhatian, pun pembelajaran kepada anak. Apakah ini disebabkan karena sekolah gratis (SD-SMP)? sehingga orang tua tak begitu perduli karena tidak merasa terbebani mengeluarkan kocek? Hal lain yang selazimnya jadi perhatin adalah institusi sekolah, dimana kebijakan BOS (bantuan Oprasional Sekolah) diberikan sesuai dengan banyaknya jumlah siswa. sehingga guru mengajar bukan bertujuan mencerdaskan melainkan menyenangkan siswa. prinsipnya jadi yang penting SISWA SENANG, bukan SISWA PINTAR. agar siswa tidak keluar sekolah sebab kalau keluar akan mengakibatkan BOSnya kecil. kalau BOS kecil, Institusi tdk mampu membayar gaji guru dan karyawan. itu kon...

Person for Safekeeping of Brebes's KBR

The root problem of the various disasters that exist in Brebes is Forest, because of landslides is closely linked with forest Events. means the policy of targeted NOT forests and valuable benefits. Forest problems in Brebes, one of which is the number of Critical Land, which resulted in erosion and frequent flooding. To address these problems the government actually has a program "Kebun Bibit Rakyat" (KBR). However, the accuracy in determining the location of KBR is determining the benefits of the KBR program is questionable, KBR has been precise determination of location in Brebes?  Syamsul Maarif, The observer of Environmental said that "Determination KBR lands full deposit of the person concerned, so naturally when the placement is rarely in accordance with technical manual placement of KBR. These elements should be dealt with firmly, considering the impact of Inaccurate KBR will lead to disasters which are very detrimental to residents in the future.  Thi...