Oleh Syamsul Maarif "Ah utopis! Apalah gunanya gagasan (ide) kalau tidak ada prakteknya, itu sama halnya hidup di alam imaginer." Itulah picu terhadap orang-orang yang mempunyai gagasan, ide, cita-cita, maka mereka yang memilikinya tentu tidak hanya mendiamkan gagasannya hanya hidup di alam imaginer, mimpi atau angan-angan belaka. Soekarno, sang proklamator, Presiden pertama Indonesia, mempunyai gagasan besar yang ingin diwujudkan dalam memimpin Bangsa Indonesia, yaitu dengan menyatukan keberagaman dalam bingkai kolaborasi Nasionalis, Agamis dan Komunis bersatu yang kita kenal dengan istilah Nasakom. Akan tetapi gagasan ini menuai penolakan dari partai partai islam Masyumi, NU dan PSII) yang tidak ingin PKI turut sertamenyusun kabinet saat itu. Sehingga Gagal usaha untuk kembali ke UUD 1945 melalui Dewan Konstituante dan rentetan peristiwa politik selama masa demokrasi liberal mencapai klimaksnya pada bulan Juni 1959 dan mendorong Presiden Soekarno untuk mengumumkan Dekrit ...