Postingan

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚

Gambar
 Yth. Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Bagian Pengadaan, Kami dari PT. Atlantik Indo Raya dengan bangga menawarkan kemudahan dalam pengadaan buku-buku Penerbit Erlangga bagi sekolah Anda! Kini, proses pembelian semakin praktis dan transparan melalui SIPLah Eurika. ✅ Keunggulan Pembelian Melalui SIPLah Eurika: ✔️ Resmi & Terpercaya – Sesuai regulasi Kemendikbud. ✔️ Mudah & Cepat – Transaksi 100% online. ✔️ Produk Lengkap – Buku ajar, referensi, dan literasi terbaik dari Penerbit Erlangga. ✔️ Harga Kompetitif – Sesuai dengan ketentuan pemerintah. ✔️ Proses Aman – Pembayaran dan pengiriman terjamin. 📌 Cara Pemesanan: 1️⃣ Kunjungi  https://siplah.eurekabookhouse.co.id/satdik/store/atlantika-indo-raya 2️⃣ Cari PT. Atlantik Indo Raya sebagai penyedia. 3️⃣ Pilih buku yang dibutuhkan. 4️⃣ Lakukan pemesanan dan pembayaran sesuai prosedur. Jangan lewatkan kesempatan untuk melengkapi koleksi buku di sekolah Anda dengan mudah dan efisien! 📖✨ 📞 Hubungi Kami untuk Informasi Lebih Lan...

KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 12

Gambar
 Bab 12: Pertaruhan Terakhir Pagi itu, suasana di desa lebih tegang dari sebelumnya. Sejak semalam, warga menerima ancaman dari orang-orang tak dikenal. Beberapa rumah dilempari batu, beberapa lainnya diteror dengan panggilan telepon misterius. Namun, Kholid tak gentar. Bersama para warga, ia mengumpulkan semua bukti yang mereka miliki—rekaman intimidasi, dokumen pemalsuan sertifikat, dan bukti suap. Di sisi lain, Ari telah menyiapkan laporan investigasinya. Kali ini, ia tak hanya menargetkan Surya Wijaya, tetapi juga para pejabat yang terlibat dalam skandal tanah ini. Maya, dengan jaringannya di dunia hukum, sudah menghubungi beberapa media nasional dan organisasi hukum independen. Mereka tahu, satu-satunya cara untuk menang adalah membuat skandal ini tak bisa lagi ditutupi. --- Gerakan Terakhir Hari itu, ratusan warga berkumpul di depan kantor pemerintah daerah. Kholid berdiri di atas truk bak terbuka, berorasi dengan suara lantang. "Kami sudah cukup bersabar! Sudah cukup tanah ...

KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 11

Gambar
 Bab 11: Bayangan yang Mengintai Malam itu, di sebuah rumah kontrakan kecil, Maya, Ari, dan Kholid berkumpul dengan beberapa warga yang masih setia berjuang. Setelah dibebaskan, mereka tahu bahwa langkah mereka harus lebih hati-hati. Surya mungkin tidak bisa menahan mereka lebih lama, tapi dia pasti punya cara lain untuk menyingkirkan mereka. Di meja, ada beberapa berkas, peta wilayah sengketa, dan bukti yang mereka kumpulkan selama ini. Ari duduk di sudut, mengetik cepat di laptopnya, menyusun laporan investigasi terbaru. Maya menyesap kopinya, lalu menatap Kholid yang duduk di seberangnya. Wajah pria itu masih terlihat lelah, tetapi matanya tetap menyala penuh semangat. "Kita tidak bisa hanya bertahan," kata Kholid. "Kita harus menyerang balik. Hukum masih bisa ditegakkan jika kita punya bukti yang cukup kuat." Maya mengangguk. "Masalahnya, mereka menguasai sistem. Pengadilan sudah menunjukkan keberpihakannya. Jika kita hanya mengandalkan jalur hukum, kita ak...

Rapat Konsolidasi Pengurus IKMAL 2021-2026: Resufle dan Penegasan Kepemimpinan Abdul Halim, SE

Gambar
 Jakarta, Februari 2025 – Ikatan Masyarakat Pemalang (IKMAL) menggelar Rapat Konsolidasi Pengurus untuk masa bakti 2021-2026 pada Sabtu, 22 Februari 2025. Rapat yang dihadiri oleh jajaran pengurus dan anggota IKMAL ini menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait restrukturisasi kepengurusan serta penegasan kepemimpinan dalam organisasi. Dalam rapat tersebut, diputuskan adanya resufle serta pemberhentian sejumlah pengurus dan pembina yang dinilai telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan AD/ART organisasi, termasuk upaya yang dianggap sebagai "makar" terhadap kepemimpinan yang sah. Keputusan ini diambil sebagai langkah untuk menjaga stabilitas dan keutuhan IKMAL agar tetap berjalan sesuai dengan visi dan misi awal pembentukannya. Salah satu poin utama yang ditekankan dalam hasil rapat ini adalah ketidakabsahan Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) yang diselenggarakan pada 23 Februari 2025. Para peserta rapat menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak memiliki dasar...

KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 10

Gambar
 Bab 10: Perlawanan dari Balik Jeruji Pintu sel berderit saat seorang petugas membuka kunci. Cahaya dari lorong menyinari wajah-wajah lelah para tahanan. Di dalam ruangan sempit itu, Maya, Ari, Kholid, dan beberapa warga lainnya duduk di lantai dingin, menunggu kabar. Maya bersandar ke dinding, matanya menerawang. Kejadian siang tadi masih terpatri jelas di benaknya—wajah-wajah marah, suara pentungan menghantam tubuh, dan teriakan warga yang berusaha melawan. Di sebelahnya, Ari masih sibuk dengan ponselnya. Dia berhasil menyembunyikan perangkat itu selama penggeledahan awal, dan sekarang dia memantau perkembangan di luar. "Media masih menyorot bentrokan tadi," katanya. "Tapi yang menarik, ada gerakan solidaritas yang mulai muncul di media sosial. Tagar #KeadilanUntukSumi dan #BebaskanKholid sudah trending." Maya menoleh. "Siapa yang memulai?" Ari menunjukkan layar ponselnya. "Jurnalis-jurnalis independen, aktivis, dan beberapa mahasiswa. Mereka mulai ...

KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 9

Gambar
 Bab 9: Suara yang Tak Bisa Dibungkam Suasana semakin tegang. Ratusan warga berhadapan langsung dengan barisan polisi yang membawa tameng dan pentungan. Di bawah terik matahari, ketegangan terasa seperti api yang siap menyambar kapan saja. Di barisan depan, Kholid berdiri tegap, mengangkat mikrofon. Suaranya lantang, penuh keyakinan. "Kita di sini bukan untuk berbuat anarki! Kita tidak meminta lebih dari apa yang sudah menjadi hak kita! Tapi jika hukum tak lagi berpihak pada rakyat, maka rakyat sendiri yang akan menegakkan keadilan!" Sorak-sorai massa menggema. Namun, hanya beberapa detik setelah orasi Kholid selesai, seorang polisi berbadan besar melangkah maju. "Aksi ini tidak berizin! Bubarkan diri kalian atau kami akan mengambil tindakan!" teriaknya. Maya mencengkeram lengan Ari. "Mereka sedang mencari alasan untuk membubarkan kita secara paksa." Ari mengangguk. "Tapi mereka lupa, kamera sudah siap merekam segalanya." Dari kejauhan, beberapa ...

KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 8

Gambar
 Bab 8: Perang Tanpa Senjata Malam itu, Maya, Ari, dan Kholid kembali ke balai desa dengan perasaan bercampur aduk. Mereka telah menemukan jejak Sumi, tetapi musuh selalu selangkah lebih maju. Namun, satu hal yang pasti: mereka tidak akan berhenti sampai menemukan Sumi dan menjatuhkan Surya Wijaya. Saat mereka tiba, balai desa masih ramai. Warga yang semakin gelisah menunggu kabar dari mereka. Beberapa di antaranya bertanya dengan nada putus asa, tetapi Kholid segera mengambil kendali. "Bu Sumi belum ditemukan, tapi kita sudah menemukan jejaknya," kata Kholid dengan suara tegas. "Mereka membawa Bu Sumi ke sebuah gudang kosong sebelum memindahkannya lagi. Ini artinya mereka mulai panik! Mereka tahu kita tidak akan diam saja." Kerumunan mulai berbisik. "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seorang warga. Kholid menatap mereka semua dengan penuh keyakinan. "Kita lawan mereka dengan cara yang lebih pintar. Kita sebarkan berita ini seluas mun...