KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 11
Bab 11: Bayangan yang Mengintai
Malam itu, di sebuah rumah kontrakan kecil, Maya, Ari, dan Kholid berkumpul dengan beberapa warga yang masih setia berjuang. Setelah dibebaskan, mereka tahu bahwa langkah mereka harus lebih hati-hati. Surya mungkin tidak bisa menahan mereka lebih lama, tapi dia pasti punya cara lain untuk menyingkirkan mereka.
Di meja, ada beberapa berkas, peta wilayah sengketa, dan bukti yang mereka kumpulkan selama ini. Ari duduk di sudut, mengetik cepat di laptopnya, menyusun laporan investigasi terbaru.
Maya menyesap kopinya, lalu menatap Kholid yang duduk di seberangnya. Wajah pria itu masih terlihat lelah, tetapi matanya tetap menyala penuh semangat.
"Kita tidak bisa hanya bertahan," kata Kholid. "Kita harus menyerang balik. Hukum masih bisa ditegakkan jika kita punya bukti yang cukup kuat."
Maya mengangguk. "Masalahnya, mereka menguasai sistem. Pengadilan sudah menunjukkan keberpihakannya. Jika kita hanya mengandalkan jalur hukum, kita akan kembali kalah."
Ari berhenti mengetik. "Jadi kita pakai cara lain."
Maya dan Kholid menoleh. Ari menatap mereka tajam.
"Kita buat mereka kehilangan kendali atas opini publik. Kita buat skandal ini begitu besar sampai pemerintah pusat harus turun tangan."
Maya mengangkat alisnya. "Kau punya rencana?"
Ari menyeringai kecil. "Aku selalu punya rencana."
---
Pemain Baru dalam Pertarungan
Sementara itu, di kantor Surya Wijaya, suasana terasa lebih tegang dari sebelumnya.
Seorang pria dengan setelan abu-abu memasuki ruangan. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya penuh ketenangan, tetapi sorot matanya tajam.
Surya berdiri, menyalaminya. "Akhirnya kau datang."
Pria itu duduk santai di kursi seberang. "Aku sudah mendengar semuanya. Kau butuh seseorang yang bisa menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan jejak."
Surya mengangguk. "Aku ingin mereka berhenti. Bukan hanya diam, tapi benar-benar berhenti."
Pria itu tersenyum tipis. "Serahkan padaku."
Di luar, hujan mulai turun. Seolah pertanda bahwa badai yang lebih besar akan segera datang.
---
Pesan Misterius
Malam itu, Maya mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
“Berhentilah sebelum terlambat.”
Tak lama kemudian, Ari menerima pesan serupa.
“Jangan jadi pahlawan. Hidupmu masih panjang.”
Kholid juga menerima pesan yang sama.
Mereka saling berpandangan. Jelas ini bukan kebetulan.
"Mereka mulai bergerak," kata Ari.
Maya menghela napas panjang. "Kita sudah melewati batas di mana kita bisa mundur, kan?"
Kholid tersenyum tipis. "Kita tidak akan mundur. Tidak sekarang."
Ari menutup laptopnya. "Kalau begitu, kita harus bergerak lebih cepat. Sebelum mereka yang mendahului kita."
.webp)
Komentar
Posting Komentar