KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 6

 Bab 6: Bayang-Bayang Ketakutan

Maya menutup telepon dengan tangan masih gemetar. Pikirannya berputar cepat, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Bu Sumi diculik.

Ari yang berdiri di sampingnya langsung menarik napas dalam. "Kita harus segera bertindak."

Maya mengangguk cepat. "Kita harus tahu siapa yang terakhir melihatnya dan ke mana dia dibawa."

Tanpa banyak bicara, mereka bergegas meninggalkan taman dan menuju motor Ari. Saat mesin dinyalakan, Maya masih bisa merasakan denyut jantungnya yang tak beraturan. Sebelumnya ia pikir kasus ini hanya akan berakhir di meja hijau, tapi kini nyawa seseorang sudah dipertaruhkan.

Dalam perjalanan, Ari menghubungi beberapa kontaknya di media dan organisasi masyarakat sipil. Beberapa dari mereka berjanji akan membantu mencari tahu keberadaan Sumi.

Maya juga menghubungi Kholid, tokoh yang mulai menjadi pemimpin perjuangan warga di desa itu. "Bu Sumi hilang. Kami dalam perjalanan ke sana."

Kholid terdiam sejenak sebelum menjawab, suaranya penuh ketegangan. "Kami sudah menduga hal ini akan terjadi. Aku akan mengumpulkan warga. Kita tidak bisa tinggal diam."

Maya menutup telepon, lalu menatap Ari. "Surya pasti ada di balik ini."

Ari menggertakkan giginya. "Dan kita akan pastikan dia membayar untuk semua yang telah dia lakukan."

Malam di Desa

Ketika mereka tiba di desa tempat Sumi tinggal, suasana sudah berubah tegang. Warga berkumpul di balai desa, wajah-wajah mereka dipenuhi kecemasan dan kemarahan.

Kholid berdiri di depan massa, suaranya lantang saat berbicara, "Jika pemerintah tidak bertindak, kita sendiri yang akan mencarinya! Kita tidak bisa membiarkan mereka merampas tanah kita dan kini merampas nyawa kita!"

Sorakan warga menggema, membakar semangat perlawanan.

Maya dan Ari segera menghampiri Kholid. "Apa ada petunjuk ke mana Sumi dibawa?" tanya Maya dengan napas memburu.

"Beberapa warga melihat sekelompok pria mencurigakan membawa seseorang dengan mobil hitam tadi sore," jawab Kholid. "Mereka pergi ke arah kota."

Ari langsung menghubungi seorang rekannya di media untuk melacak kamera CCTV di sepanjang jalan keluar desa. Sementara itu, Maya berdiri di depan warga.

Ia menarik napas, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.

"Kita tahu siapa yang ada di balik ini. Kita tahu siapa yang merampas hak kita. Tapi kita tidak boleh gegabah. Kita akan mencari Bu Sumi, kita akan membawa kasus ini ke permukaan, dan kita akan pastikan keadilan tetap hidup!"

Warga bersorak lagi, tetapi kali ini ada ketegangan yang lebih terasa. Mereka tahu ini bukan lagi sekadar pertarungan hukum. Ini adalah perjuangan hidup dan mati.

Kholid menepuk bahu Ari. "Aku akan memastikan warga tetap solid. Tapi kalian berdua harus hati-hati. Surya punya lebih banyak kekuatan dari yang kita duga."

Ari menatap Maya, kemudian mengangguk. "Kami sudah siap menghadapi semuanya."

Di kejauhan, langit malam tampak lebih gelap dari biasanya. Mungkin itu hanya bayangan biasa. Atau mungkin, itu adalah pertanda bahwa badai sesungguhnya baru saja dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚