KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 4
Bab 4: Antara Cinta dan Perjuangan
Hujan turun tipis di luar, membasahi jendela kaca kedai kopi kecil tempat Maya duduk. Tangannya menggenggam cangkir yang masih mengepul, tapi pikirannya berkelana jauh. Beberapa jam lalu, ia baru saja mengalami ancaman nyata. Tubuhnya masih terasa pegal setelah insiden itu, tapi yang lebih menyakitkan adalah kesadarannya bahwa ia kini sedang melawan musuh yang tak terlihat—dan mungkin lebih kuat dari yang ia duga.
Pintu kedai terbuka, membawa hembusan angin dingin yang membuat Maya merapatkan jaketnya. Dari balik pintu, seorang pria dengan langkah percaya diri masuk. Maya langsung mengenalnya.
"Ari?"
Ari menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil. Pipinya masih terlihat memar akibat pemukulan tempo hari, tetapi ekspresi wajahnya tetap tenang, seolah semua itu bukan hal besar baginya.
"Sepertinya kita sering bertemu dalam keadaan tidak baik," katanya sambil menarik kursi di depannya tanpa permisi.
Maya mengangkat alis. "Dan sepertinya kau mulai menjadikanku teman bicara favoritmu."
Ari tertawa kecil sebelum memesan kopi. "Yah, jurnalis yang terlalu banyak bicara biasanya memang tidak punya banyak teman."
Maya tersenyum tipis, tetapi dengan cepat ekspresinya berubah serius. "Aku juga baru saja mendapat ancaman," katanya lirih. "Dua pria menghentikanku di jalan. Mereka memperingatkanku untuk tidak mencampuri urusan yang bukan urusanku."
Ari menatapnya dengan tajam. "Dan itu justru membuatmu semakin ingin melawan, bukan?"
Maya mengangguk. "Jika mereka berpikir bisa menghentikanku dengan ancaman, mereka salah."
Ari tersenyum kecil, ada kekaguman di matanya. "Kau berani, Maya. Tidak banyak orang yang tetap teguh ketika menghadapi tekanan seperti ini."
Maya mengangkat bahu. "Aku hanya ingin melakukan hal yang benar."
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar di luar.
Ari akhirnya membuka laptopnya dan menarik nafas panjang. "Aku punya informasi tentang Surya Wijaya," katanya, memecah kesunyian. "Aku yakin dia ada di balik banyak kasus mafia tanah, termasuk kasus yang sedang kau tangani."
Maya menajamkan pandangannya. "Kau yakin?"
Ari mengangguk. "Aku sudah mengumpulkan beberapa dokumen dan kesaksian dari orang-orang yang pernah berurusan dengannya. Banyak kasus yang diatur agar dia selalu menang. Dan yang lebih buruk, dia punya jaringan di dalam sistem hukum—hakim, jaksa, bahkan kepolisian."
Maya menghela napas berat. "Jadi ini lebih besar dari yang kuduga."
"Jauh lebih besar," kata Ari. "Dan jika kita benar-benar ingin melawan, kita harus pintar."
Maya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu dalam cara Ari berbicara—keberanian yang dibalut dengan kecerdikan. Dia bukan sekadar jurnalis yang suka mengkritik. Dia adalah seseorang yang tahu bagaimana cara bermain di dalam sistem, meskipun sistem itu penuh kebusukan.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya Maya akhirnya.
Ari tersenyum tipis. "Kita kumpulkan lebih banyak bukti. Kita butuh sesuatu yang tidak bisa mereka abaikan atau tutupi."
Maya mengangguk. "Dan kau pikir kita bisa melakukannya?"
Ari menatapnya dalam. "Jika kita bersama, mungkin peluang kita lebih besar."
Maya merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukan ketakutan, bukan pula keraguan. Tapi sesuatu yang lebih halus—sebuah perasaan bahwa ia telah menemukan seseorang yang memahami beban yang ia pikul.
Hujan di luar semakin deras, tetapi di dalam kedai kopi itu, Maya merasakan kehangatan yang berbeda.
Mereka bukan hanya sekadar dua orang yang memperjuangkan keadilan.
Mereka mulai menjadi sesuatu yang lebih dari itu.
.webp)
Komentar
Posting Komentar