Seragam Coklat 1
Oleh Syamsul Maarif
Prolog
Wahyu, seorang polisi yang dikenal tegas di lingkungan kerjanya, menyembunyikan dua rahasia besar: ia terlibat dalam bisnis ilegal penjualan solar subsidi dan memiliki istri simpanan bernama Devi, yang memberinya seorang anak, Yasmin. Sementara di rumah, ia hidup dengan istri sahnya, Rina, yang mulai mencurigai perubahan sikap suaminya.
Ketika bisnis ilegal Wahyu menarik perhatian aparat lain, kehidupan ganda yang ia jalani mulai terancam runtuh. Devi menuntut pengakuan untuk dirinya dan Yasmin, sementara Rina semakin mendekati kebenaran. Di tengah tekanan, Wahyu terjebak dalam pusaran pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya. Pilihan Wahyu semakin sempit: mempertahankan bisnis gelapnya, melindungi keluarganya, atau kehilangan segalanya.
Bab 1: Seragam dan Dosa
Suara sirene meraung di kejauhan, memecah kesunyian malam Jakarta yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan yang berkelap-kelip memantulkan bayang-bayang samar di helm polisi yang dikenakan Wahyu. Seragam dinasnya masih rapi meski waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di kantor, ia dikenal sebagai polisi yang disiplin dan tegas. Rekan-rekannya memandangnya dengan hormat, bahkan atasan sering memuji dedikasinya dalam menegakkan hukum.
Namun, di balik ketegasan dan seragam yang bersih itu, Wahyu menyimpan rahasia yang hanya diketahui segelintir orang.
Setelah mengunci loker di kantor, Wahyu keluar dari markas polisi dengan langkah mantap. Ia bukan menuju rumah tempat istrinya, Rina, menunggu, melainkan ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Gudang itu tampak tak terurus dari luar, tetapi di dalamnya adalah pusat distribusi solar subsidi yang telah menjadi sumber kekayaan Wahyu selama dua tahun terakhir.
Setibanya di gudang, Wahyu disambut oleh Bayu, salah satu tangan kanannya dalam bisnis gelap ini. Bayu adalah mantan sopir truk yang kini menjadi perantara antara Wahyu dan para kontraktor.
"Pak, semua sudah siap. Truknya berangkat jam satu pagi," kata Bayu sambil menyerahkan amplop tebal berisi uang hasil penjualan solar minggu lalu.
Wahyu membuka amplop itu dan menghitung cepat. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Bagus. Pastikan tidak ada yang bermain curang. Aku nggak mau ada yang coba-coba main belakang."
Bayu mengangguk patuh, meski di matanya ada sedikit kilatan ketakutan. Semua orang tahu, Wahyu bukan hanya polisi biasa—ia bisa sangat berbahaya jika merasa dikhianati.
Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, Wahyu meninggalkan gudang. Ia mengendarai mobil SUV mewah yang jelas-jelas tak sebanding dengan gajinya sebagai polisi. Tapi, siapa yang berani bertanya?
Alih-alih pulang ke rumah, Wahyu melajukan mobilnya ke arah apartemen di kawasan elit. Di sanalah Devi, perempuan simpanannya, tinggal bersama Yasmin, anak hasil hubungan mereka yang tidak pernah diakui Wahyu secara resmi.
Devi sudah menunggu di balkon saat Wahyu tiba. Wajahnya terlihat lelah, matanya menyimpan banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab.
"Kamu datang juga akhirnya," kata Devi dingin, membuka pintu tanpa senyum.
Wahyu masuk dan meletakkan jaketnya di sofa. "Aku sibuk, Devi. Kamu tahu sendiri urusanku nggak sedikit."
Devi memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan amarah yang sudah lama dipendam. "Sibuk? Atau kamu pulang ke istri sahmu dulu sebelum ke sini?"
Wahyu menatap Devi tajam. "Jaga omonganmu."
"Terserah kamu, Yu. Tapi Yasmin mulai tanya kenapa ayahnya nggak pernah ada di rumah. Sampai kapan kamu mau begini?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat Wahyu terdiam sejenak. Ia menatap foto kecil Yasmin di atas meja—anak perempuan itu mewarisi matanya, tatapan tajam yang kini menuntut pengakuan.
"Aku urus semuanya. Tapi bukan sekarang," jawab Wahyu akhirnya, suaranya datar tanpa emosi.
Devi menghela napas panjang, menyadari bahwa malam ini pun tidak akan ada perubahan. Ia tahu Wahyu bukan pria yang mudah diatur, tapi hatinya sudah terlalu lelah menjadi rahasia yang disembunyikan.
Malam semakin larut, dan di luar sana, truk-truk bermuatan solar subsidi ilegal bergerak perlahan, membawa dosa Wahyu semakin dalam ke jurang yang tak bisa ia hindari.
Selanjutnya .....

Komentar
Posting Komentar