KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 1

 1. Kegelapan di Balik Meja Hijau

Langit sore tampak kelabu saat Ari menyalakan laptopnya di sudut kecil sebuah warung kopi. Aroma pahit menyebar dari cangkir hitam di depannya, bercampur dengan suara gerimis yang jatuh di atap seng. Matanya menatap layar dengan tajam, membaca ulang catatan yang ia buat sejak siang tadi.

> Seorang buruh tua divonis tiga tahun karena mencuri sebungkus beras. Seorang pejabat yang menggelapkan dana proyek miliaran rupiah dibebaskan tanpa hukuman. Ini bukan kali pertama. Seberapa murah harga keadilan di negeri ini?

Ari mengetik cepat, jari-jarinya berlari di atas keyboard. Ia tahu, berita ini bisa mengguncang publik—atau malah membahayakan dirinya sendiri.

Di seberang meja, Dimas, sahabat sekaligus rekan jurnalisnya, menghela napas. "Kau yakin ingin mempublikasikan ini, Ri? Kau tahu siapa yang kau hadapi."

Ari menutup laptopnya. "Kalau kita diam, siapa lagi yang akan bicara?"

Dimas terdiam. Ia tahu Ari bukan tipe yang mudah takut. Sudah terlalu banyak kasus yang ditutup-tutupi, terlalu banyak suara yang dibungkam. Tapi mereka hanya jurnalis, bukan pejuang yang punya perlindungan.

"Setidaknya berhati-hatilah," kata Dimas akhirnya. "Orang-orang yang bermain di balik meja hijau ini bukan orang biasa."

Ari mengangguk. Ia tahu risikonya.

---

Sementara itu, di sebuah gedung tinggi dengan jendela besar yang menghadap ke pusat kota, seorang pria berdiri membelakangi ruangan. Tangan kanannya menggenggam cerutu, sementara matanya menatap ke luar dengan tenang.

"Seorang jurnalis bernama Ari Adi Pratama menulis tentang kasus Karim," kata seseorang di balik meja. "Tulisannya viral. Banyak yang mulai bertanya-tanya."

Pria berjas hitam itu menghembuskan asap pelan. "Kita lihat dulu sejauh mana dia berani melangkah."

"Tapi jika dibiarkan, dia bisa menggali lebih dalam," suara itu terdengar ragu.

"Kalau begitu, beri dia peringatan."

Seseorang mengangguk dalam bayangan.

---

Malam itu, saat Ari berjalan pulang melewati gang sempit, ia merasa ada yang mengikutinya. Langkah kaki di belakangnya terdengar teratur, tapi setiap kali ia menoleh, tak ada siapa pun.

Tiba-tiba, dari arah belakang, dua pria muncul. Wajah mereka tertutup masker.

"Ari Adi Pratama?"

Ari belum sempat menjawab ketika pukulan keras mendarat di perutnya. Ia terhuyung, jatuh berlutut di tanah.

"Sebaiknya kau berhenti menulis hal-hal yang tak perlu," suara salah satu pria itu dingin. "Jangan bermain dengan api."

Sebuah pukulan lagi mengenai pipinya sebelum mereka pergi begitu saja, meninggalkan Ari tergeletak di jalan.

Dengan napas tersengal, Ari menyeka darah di sudut bibirnya. Ia tahu ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah deklarasi perang.

Dan ia tak akan mundur.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚