Seragam Coklat 3
Bab 3: Dua Dunia, Dua Wajah
Pagi itu, Wahyu duduk di meja makan bersama Rina, istrinya yang sah. Suasana rumah mereka di kawasan perumahan elit Jakarta tampak seperti keluarga sempurna: meja makan rapi, aroma kopi pagi menyebar di udara, dan suara burung berkicau di luar jendela. Tapi di balik ketenangan itu, ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan.
Rina menatap Wahyu yang sibuk dengan ponselnya, jarinya terus menggeser layar tanpa berkata sepatah kata pun sejak duduk di meja.
“Kamu nggak kerja hari ini?” tanya Rina pelan, mencoba memulai percakapan.
Wahyu mendongak sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. “Ada urusan di luar kantor. Biasa, tugas lapangan.”
Rina diam-diam memeriksa mutasi rekening mereka beberapa hari lalu. Ada transfer sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening atas nama Devi Anindya. Nama itu tidak asing di telinganya, tapi Rina belum bisa memastikan siapa Devi sebenarnya. Sejak saat itu, Rina memutuskan untuk mengumpulkan bukti sebelum menghadapi Wahyu.
“Yu,” panggil Rina, suaranya sedikit lebih tegas. “Kita jarang ngobrol belakangan ini. Ada yang kamu sembunyikan dari aku?”
Wahyu menoleh, matanya menyipit. “Maksud kamu apa?”
“Aku cuma nanya. Kamu sering pulang malam, uang keluar masuk nggak jelas, dan…” Rina berhenti sejenak, menahan diri untuk tidak meledak. “Ada nama Devi Anindya di mutasi rekening kita. Siapa dia?”
Wahyu terdiam, lalu tertawa kecil, seolah pertanyaan itu tidak penting.
“Itu urusan kerja, Rin. Aku invest di proyek teman. Jangan mikir yang aneh-aneh.”
Rina menatap suaminya dalam-dalam, mencoba membaca ekspresi di wajah Wahyu. Tapi pria itu terlalu pandai menyembunyikan kebohongan. Rina tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar urusan kerja, tapi ia memilih untuk menahan diri, untuk saat ini.
Setelah sarapan, Wahyu segera bergegas keluar rumah. Begitu pintu tertutup, Rina menghela napas panjang. Hatinya berdebar kencang, antara marah, curiga, dan takut. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan tinggal diam.
Di Tempat Lain
Wahyu memacu mobilnya menuju lokasi pertemuan dengan Devi. Semalam, perempuan itu mengirimkan alamat sebuah kafe kecil di daerah Kemang. Wahyu tahu Devi mulai kehilangan kesabaran, dan itu berbahaya. Jika Devi nekat membocorkan hubungan mereka atau lebih buruk lagi—bisnis ilegalnya, Wahyu bisa kehilangan segalanya.
Setibanya di kafe, Devi sudah menunggu di sudut ruangan, wajahnya terlihat dingin dan penuh tekad. Yasmin tidak dibawa, yang membuat Wahyu sedikit lega. Ia tidak ingin masalah ini semakin rumit dengan kehadiran anak mereka.
“Kamu datang juga akhirnya,” kata Devi tanpa basa-basi.
Wahyu duduk di hadapannya, memesan kopi tanpa menatap Devi. “Apa yang mau kamu bicarakan?”
Devi mencondongkan tubuhnya, suaranya pelan tapi tegas. “Aku capek, Yu. Capek jadi rahasia. Yasmin butuh ayah yang hadir, bukan cuma kiriman uang setiap bulan.”
Wahyu menghela napas, mencoba bersabar. “Aku sudah bilang, urusanku nggak gampang. Kamu mau aku kehilangan pekerjaanku? Semua ini butuh waktu.”
Devi menatap Wahyu dengan mata berkaca-kaca, tapi suaranya tetap stabil. “Bukan cuma soal pekerjaan, Yu. Ini soal komitmen. Kalau kamu nggak bisa pilih, aku yang akan ambil keputusan.”
“Apa maksudmu?” Wahyu menatap Devi tajam, merasakan ancaman di balik kata-katanya.
“Aku capek, Yu. Kalau kamu terus begini, aku akan cerita semuanya. Ke istrimu, ke atasanmu. Aku nggak peduli.”
Ucapan Devi membuat Wahyu membeku. Ia tahu Devi serius. Perempuan itu sudah terlalu lama bersabar, dan Wahyu terlalu lama menganggap Devi hanya sebagai pelarian.
Wahyu mencondongkan tubuhnya, menatap mata Devi tajam. “Jangan main-main, Devi. Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi.”
Devi tersenyum tipis, tapi senyum itu penuh tantangan. “Aku tahu persis apa yang aku hadapi, Yu. Dan aku siap.”
Wahyu berdiri, menahan amarah yang mulai membakar dada. Ia meninggalkan kafe tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan Devi dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. Devi tahu dia baru saja memulai perang, tapi ia juga tahu ini satu-satunya cara untuk memperjuangkan masa depan Yasmin.
Malam Hari
Wahyu kembali ke rumah, tapi pikirannya tidak tenang. Rina menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi Wahyu bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Rina terlalu tenang, terlalu manis.
Saat Wahyu masuk ke kamar mandi, Rina mengambil ponselnya yang tertinggal di meja. Dengan cepat, ia memeriksa pesan-pesan yang baru masuk. Hatinya berdebar kencang saat menemukan pesan terakhir dari Devi.
"Kamu pikir aku akan terus diam? Aku nggak takut, Yu. Aku akan ceritakan semuanya kalau kamu nggak berubah."
Rina menutup ponsel dengan tangan gemetar. Semua kecurigaannya terbukti benar. Suaminya tidak hanya berselingkuh, tapi juga terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Malam itu, saat Wahyu tertidur, Rina duduk di ruang tamu dengan pikiran yang penuh gejolak. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan menjadi korban dari kebohongan Wahyu.
Komentar
Posting Komentar