KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 3

 Bab 3: Keberanian yang Berisiko

Maya menatap berkas-berkas di mejanya dengan rahang mengatup. Sejak ancaman telepon semalam, ia tak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus berputar—siapa yang ada di balik kasus ini? Seberapa dalam permainan mereka?

Di layar laptopnya, sebuah nama terus menarik perhatiannya: Surya Wijaya. Pemilik PT Surya Graha, taipan properti yang sering dikaitkan dengan sengketa tanah. Banyak yang mengatakan ia punya hubungan kuat dengan pejabat tinggi, bahkan dengan aparat hukum.

Maya mengepalkan tangannya. Jika benar Surya ada di balik semua ini, maka kasus Bu Sumi hanyalah satu dari sekian banyak korban.

Di tempat lain, Ari duduk di kantornya, menatap layar komputer dengan ekspresi serius. Luka di pipinya akibat pemukulan beberapa hari lalu masih terasa perih, tapi pikirannya jauh lebih sibuk daripada tubuhnya.

Ia membaca ulang artikel yang baru saja ia unggah:

"Ketika Hukum Memihak yang Berkuasa: Buruh Dipenjara, Pejabat Melenggang Bebas."

Respons publik luar biasa. Ratusan komentar membanjiri artikelnya, banyak yang marah dan mempertanyakan keadilan negeri ini.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Dimas menelepon.

"Ari, aku baru dengar sesuatu yang buruk," suara Dimas terdengar tegang.

"Apa?"

"Kabarnya, seseorang dari atas sudah mulai mengincarmu. Mereka tidak suka dengan tulisan-tulisanmu."

Ari tersenyum miris. "Aku sudah mengira. Aku tidak akan berhenti."

Dimas menghela napas. "Hanya hati-hati, oke? Jangan sampai kita kehilanganmu."

Sementara itu, Maya mulai menghubungi beberapa rekannya yang bekerja di lembaga bantuan hukum. Ia butuh lebih banyak dukungan untuk membawa kasus Bu Sumi ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, jawaban yang ia terima sama: tidak ada yang berani terlibat.

Salah satu rekannya, seorang pengacara senior, bahkan memperingatkannya langsung.

"Maya, ini bukan sekadar kasus sengketa tanah biasa. Surya Wijaya punya koneksi kuat. Hakim, polisi, jaksa—banyak yang sudah ia beli. Kalau kau terus maju, kau bisa kehilangan lebih dari sekadar karirmu."

Maya menatapnya tajam. "Jika aku mundur, siapa lagi yang akan memperjuangkan mereka?"

Sang pengacara menghela napas berat. "Berhati-hatilah. Kau melawan sesuatu yang lebih besar dari yang kau bayangkan."


Malam itu

Maya sedang dalam perjalanan pulang ketika ia merasa ada mobil hitam yang mengikutinya. Awalnya, ia mencoba berpikir positif—mungkin hanya kebetulan.

Namun, ketika mobil itu terus berada di belakangnya bahkan setelah beberapa kali belokan, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia mempercepat langkah, mencoba masuk ke jalan kecil yang lebih ramai. Tapi mobil itu tiba-tiba berhenti di depannya.

Dua pria bertubuh besar keluar.

"Maya Astari," salah satu dari mereka berkata dengan suara datar. "Kau terlalu banyak bertanya."

Maya berusaha berbalik, tapi pria yang lain sudah mencengkeram lengannya.

"Kami hanya ingin memastikan kau tidak mencampuri urusan yang bukan urusanmu."

Maya menatap mereka dengan berani, meski kakinya gemetar. "Jika kalian pikir bisa menghentikanku dengan ancaman seperti ini, kalian salah besar."

Salah satu pria itu menyeringai. "Lihat saja nanti."

Mereka mendorong Maya ke dinding, cukup keras untuk membuatnya tersungkur, sebelum masuk kembali ke mobil dan pergi begitu saja.

Dengan napas tersengal, Maya berdiri dan menyeka darah di sudut bibirnya.

Ancaman ini hanya membuatnya semakin yakin.

Jika hukum tidak bisa melawan mereka, maka ia akan mencari cara lain.

Dan ia tidak akan sendirian.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚