Seragam Coklat 5
Bab 5: Titik Balik
Malam itu Jakarta diguyur hujan deras. Kilat menyambar di langit, sesekali menerangi jalanan yang basah dan lengang. Di sebuah apartemen sederhana di kawasan Tebet, Devi duduk di lantai ruang tamu, menatap flashdisk di tangannya. Jantungnya berdebar kencang, antara rasa takut dan tekad yang semakin menguat. Yasmin sudah tidur pulas di kamar, tak tahu bahwa dunia ibunya sedang berguncang.
Devi tahu, jika ia menyerahkan bukti ini ke media atau pihak berwenang, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Tapi ia juga tahu, membiarkan Wahyu terus berkeliaran berarti membiarkan Yasmin tumbuh dalam bayang-bayang kebohongan dan bahaya.
Ia mengambil ponsel, mencari kontak seorang jurnalis investigasi yang direkomendasikan oleh Lani—Dimas Nugroho, wartawan dari salah satu media nasional yang dikenal berani mengungkap kasus-kasus besar. Setelah beberapa detik ragu, Devi akhirnya menekan tombol panggil.
Suara di ujung sana terdengar tenang, “Halo, Devi?”
Devi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Saya punya sesuatu. Tentang jaringan penjualan solar subsidi ilegal yang melibatkan polisi. Saya butuh bantuan Anda.”
Dimas terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Ini serius, Devi? Kalau benar, ini bukan hal kecil. Nyawa bisa jadi taruhannya.”
“Aku tahu risikonya,” kata Devi tegas. “Tapi aku nggak bisa diam lagi. Ini tentang masa depan anakku.”
Setelah percakapan singkat itu, mereka sepakat untuk bertemu di tempat yang aman. Dimas akan membawa timnya untuk memverifikasi data sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
---
Di Tempat Lain
Sementara itu, Wahyu duduk di dalam mobilnya yang terparkir di sudut gelap sebuah jalan. Hujan membasahi kaca depan, menciptakan pola-pola samar yang menyamarkan pandangannya. Di kursi samping, Bayu duduk dengan gelisah, wajahnya pucat dan penuh keringat.
“Ada perkembangan?” tanya Bayu, suaranya bergetar.
Wahyu mengangguk pelan. “Devi mau buka suara. Dia punya bukti.”
Bayu mengumpat pelan. “Kalau dia kasih itu ke media atau polisi, kita habis, Yu.”
Wahyu menghela napas, memijat pelipisnya yang berdenyut. “Kita harus bertindak sebelum dia melangkah lebih jauh.”
Bayu menatap Wahyu dengan ragu. “Maksudmu…?”
Wahyu menoleh, menatap mata Bayu dengan dingin. “Kita buat dia nggak bisa ngomong lagi.”
Bayu menelan ludah, merasakan ketegangan semakin mencekik. Ia tahu Wahyu serius. Ini bukan pertama kalinya mereka menghadapi masalah seperti ini, tapi kali ini berbeda. Devi bukan sekadar orang luar—dia ibu dari anak Wahyu.
Namun, di dunia mereka, emosi pribadi tidak ada tempatnya. Bisnis adalah bisnis. Ancaman harus dihilangkan, apa pun risikonya.
---
Pertemuan Rahasia
Devi bertemu dengan Dimas di sebuah kafe kecil di daerah Pasar Minggu. Kafe itu sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk dengan laptop mereka. Dimas duduk di sudut ruangan, mengenakan jaket hoodie dan topi untuk menyamarkan identitasnya.
“Ini dia,” Devi menyerahkan flashdisk kepada Dimas. “Semua data ada di situ. Rute pengiriman, nama-nama kontraktor, bahkan bukti transfer dari Wahyu.”
Dimas memeriksa flashdisk itu dengan cermat sebelum menyimpannya di saku jaketnya. “Kamu sadar ini berbahaya, Devi? Mereka bisa melakukan apa saja untuk menghentikanmu.”
Devi mengangguk. “Aku nggak peduli. Selama Yasmin aman, aku siap hadapi apa pun.”
Dimas menatap Devi dengan kagum. “Kita akan pastikan cerita ini keluar. Tapi kamu harus hati-hati. Mereka nggak akan tinggal diam.”
Setelah pertemuan itu, Dimas dan timnya mulai mengumpulkan data tambahan. Mereka menghubungi sumber-sumber dalam kepolisian, mencari tahu seberapa dalam jaringan Wahyu beroperasi. Semakin banyak mereka gali, semakin besar skandal yang mereka temukan.
---
Rina Mulai Bergerak
Sementara itu, di rumah Wahyu, Rina semakin curiga. Ia sudah mengumpulkan cukup banyak bukti tentang perselingkuhan suaminya, tapi malam itu, ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan. Saat Wahyu mandi, Rina memeriksa laptop suaminya dan menemukan file-file yang berkaitan dengan pengiriman solar subsidi ilegal.
Rina menatap layar dengan mata melebar. Ia tidak pernah membayangkan suaminya terlibat dalam kejahatan sebesar ini. Dengan cepat, ia memotret layar laptop menggunakan ponselnya, memastikan ia punya salinan sebelum Wahyu keluar dari kamar mandi.
Malam itu, Rina tahu hidupnya akan berubah. Ia tidak hanya berurusan dengan suami yang berselingkuh, tapi juga kriminal yang bisa membahayakan keluarganya. Rina memutuskan untuk mencari bantuan, dan satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya adalah Devi.
---
Pertemuan Tak Terduga
Beberapa hari kemudian, Devi menerima pesan dari nomor tak dikenal. “Kita perlu bicara. Ini soal Wahyu. -Rina.”
Devi terkejut membaca pesan itu. Ia tidak menyangka Rina tahu tentang dirinya. Setelah beberapa menit berpikir, Devi membalas pesan itu dan mereka sepakat untuk bertemu di tempat yang netral.
Mereka bertemu di taman kota, di bawah rindangnya pohon besar. Rina datang dengan wajah tegas, sementara Devi tampak gugup. Untuk sesaat, mereka hanya saling menatap, mencoba membaca satu sama lain.
“Aku tahu tentang kamu dan Wahyu,” Rina memulai, suaranya datar. “Tapi ini lebih dari sekadar perselingkuhan. Aku tahu dia terlibat dalam sesuatu yang berbahaya.”
Devi mengangguk, merasa lega dan takut pada saat yang sama. “Aku juga. Aku punya bukti, dan aku sudah kasih ke jurnalis.”
Rina terdiam, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto bukti yang ia temukan. “Aku juga punya ini. Kita harus kerja sama.”
Devi menatap Rina, merasa ada ikatan aneh di antara mereka—dua perempuan yang dikhianati oleh pria yang sama, tapi sekarang bersatu untuk menghancurkannya.
---
Serangan Balik
Saat Wahyu mengetahui bahwa Devi dan Rina bekerja sama, ia tahu waktunya hampir habis. Ia memerintahkan Bayu untuk mempercepat rencana mereka. Devi harus dibungkam sebelum cerita ini keluar ke publik.
Namun, sebelum mereka sempat bertindak, Dimas merilis artikel besar di media nasional. Judulnya mencolok: “Skandal Solar Subsidi: Oknum Polisi di Balik Jaringan Ilegal.” Artikel itu memuat detail lengkap tentang operasi Wahyu, termasuk bukti transfer, rute pengiriman, dan nama-nama kontraktor yang terlibat.
Berita itu menyebar seperti api. Polisi segera mengadakan penyelidikan internal, dan Wahyu menjadi target utama. Rekan-rekan kerjanya mulai menjauh, dan tekanan datang dari semua arah.
---
Akhir Jalan
Beberapa hari setelah berita itu meledak, Wahyu mencoba melarikan diri. Ia berencana kabur keluar negeri menggunakan identitas palsu, tapi langkahnya sudah diawasi. Saat ia tiba di bandara, tim dari kepolisian sudah menunggunya.
“Wahyu, kamu ditangkap atas tuduhan korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan keterlibatan dalam jaringan penjualan solar ilegal,” kata Kompol Andri dengan suara tegas.
Wahyu mencoba melawan, tapi semuanya sia-sia. Borgol diklik di pergelangan tangannya, dan hidupnya yang penuh kebohongan akhirnya runtuh.
Komentar
Posting Komentar