KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 2

 Bab 2: Permainan Para Penguasa

Pintu ruang sidang terbuka dengan suara berderit. Maya melangkah masuk dengan kepala tegak, meski hatinya dipenuhi kegelisahan. Di hadapannya, seorang perempuan paruh baya duduk dengan wajah lelah dan mata sembab. Namanya Bu Sumi, seorang ibu tunggal yang tanah warisannya dirampas oleh sebuah perusahaan besar dengan bantuan mafia hukum.

Maya menarik napas panjang sebelum menatap hakim. "Yang Mulia, klien saya memiliki bukti kepemilikan tanah yang sah, lengkap dengan sertifikat yang telah diterbitkan sejak puluhan tahun lalu. Namun, tiba-tiba tanah ini diklaim oleh PT Surya Graha melalui sertifikat baru yang dikeluarkan secara ilegal. Kami meminta keadilan!"

Hakim, seorang pria berperut buncit dengan cincin emas mencolok di jarinya, hanya melirik malas ke arah Maya. Dari balik meja hakim, seorang pengacara dari PT Surya Graha menyeringai. Ia tahu hasil sidang ini sudah ditentukan sejak awal.

Sidang berjalan penuh ketegangan. Maya menunjukkan semua bukti yang ia punya, tetapi berkali-kali keberatannya ditolak. Setiap argumen yang dia sampaikan seolah masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan majelis hakim.

Ketika akhirnya keputusan dibacakan, Maya sudah bisa menebaknya.

"Setelah mempertimbangkan semua bukti dan fakta persidangan, majelis hakim memutuskan bahwa kepemilikan tanah jatuh kepada PT Surya Graha."

Maya mengepalkan tangannya. Di sebelahnya, Bu Sumi terisak pelan.

"Ini tidak adil!" Maya berteriak. "Kami punya bukti yang sah!"

Hakim mengetukkan palu dengan wajah datar. "Keputusan sudah final. Sidang ditutup."

Maya merasakan amarah mendidih dalam dadanya. Ia tahu ada permainan kotor di balik keputusan ini. Dan ia tidak akan tinggal diam.

---

Di balik layar

Di sebuah ruangan gelap dengan meja kayu besar, seorang pria berkemeja batik menyesap kopinya. Ia adalah Surya Wijaya, pemilik PT Surya Graha, sekaligus orang yang menarik banyak benang kekuasaan di balik hukum negeri ini.

"Bagaimana sidangnya?" tanyanya santai.

Seorang pria berbadan tegap di depannya mengangguk. "Seperti yang sudah direncanakan, hakim memihak kita."

Surya tersenyum puas. "Dan pengacaranya?"

"Maya Astari. Dia cukup vokal, tapi tak bisa berbuat banyak."

Surya mengetukkan jarinya ke meja. "Pastikan dia tidak melangkah lebih jauh."

---

Malam itu

Maya sedang mengemasi berkas-berkasnya di kantor hukum kecilnya ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.

"Maya Astari?"

Suara di seberang terdengar dingin.

"Kami tahu kau sedang mencari keadilan. Tapi kau sebaiknya berpikir dua kali sebelum melangkah lebih jauh."

Sambungan terputus.

Maya menggenggam ponselnya erat. Ancaman ini tidak akan menghentikannya. Justru, ini semakin membuktikan bahwa ada sesuatu yang besar dan busuk di balik kasus ini.

Ia akan terus berjuang. Bagaimanapun caranya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚