KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 9

 Bab 9: Suara yang Tak Bisa Dibungkam

Suasana semakin tegang. Ratusan warga berhadapan langsung dengan barisan polisi yang membawa tameng dan pentungan. Di bawah terik matahari, ketegangan terasa seperti api yang siap menyambar kapan saja.

Di barisan depan, Kholid berdiri tegap, mengangkat mikrofon. Suaranya lantang, penuh keyakinan.

"Kita di sini bukan untuk berbuat anarki! Kita tidak meminta lebih dari apa yang sudah menjadi hak kita! Tapi jika hukum tak lagi berpihak pada rakyat, maka rakyat sendiri yang akan menegakkan keadilan!"

Sorak-sorai massa menggema.

Namun, hanya beberapa detik setelah orasi Kholid selesai, seorang polisi berbadan besar melangkah maju.

"Aksi ini tidak berizin! Bubarkan diri kalian atau kami akan mengambil tindakan!" teriaknya.

Maya mencengkeram lengan Ari. "Mereka sedang mencari alasan untuk membubarkan kita secara paksa."

Ari mengangguk. "Tapi mereka lupa, kamera sudah siap merekam segalanya."

Dari kejauhan, beberapa wartawan terus menyorotkan kamera mereka ke arah polisi. Media nasional sudah mulai meliput.

Namun, perintah polisi tetap jatuh.

"Bubar sekarang juga!"

Dan tiba-tiba—dorongan pertama terjadi.

Seorang polisi mendorong salah satu warga tua hingga jatuh.

Teriakan kemarahan pecah. Beberapa pemuda maju hendak membantu, tetapi polisi langsung mengayunkan pentungan.

"Hentikan!" suara Maya nyaris berteriak.

Tapi situasi sudah terlanjur kacau. Polisi mulai mendorong warga lebih agresif, menciptakan kekacauan di antara massa. Orang-orang berlarian, sebagian bertahan, sebagian lainnya mulai panik.

Ari berusaha menarik Maya mundur. "Kita harus keluar dari sini! Ini sudah bukan aksi damai lagi!"

Tapi Maya menolak. Matanya terpaku pada Kholid, yang masih berdiri tegap, tidak bergeming meski polisi semakin brutal.

Dengan suara lantang, Kholid kembali mengangkat mikrofon.

"Kami tidak akan pergi! Jika kami harus mati di sini, maka biarlah seluruh dunia melihat bagaimana hukum telah mati di negeri ini!"

---

Titik Balik

Di tengah kekacauan, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Seorang pria berbadan tegap turun dari dalamnya.

Maya mengenalinya seketika.

Surya Wijaya.

Dia berdiri di pinggir jalan, mengenakan kacamata hitam, menonton kekacauan dengan ekspresi datar.

Maya merasakan amarah membakar dadanya. Pria itu sedang menikmati penderitaan mereka.

Tanpa pikir panjang, Maya melangkah maju, mendekati mobil Surya.

"Jangan coba-coba mengatur semua ini dari jauh, Surya!" teriaknya.

Surya menoleh, tersenyum sinis. "Aku tidak mengatur apa pun, Nona Maya. Aku hanya menonton kalian menghancurkan diri sendiri."

Maya mengepalkan tinjunya. "Kau pikir kami akan diam? Kami punya bukti! Kami punya media! Kau tidak bisa lolos dari ini!"

Surya tertawa kecil. "Media? Hukum? Kau masih percaya itu?"

Lalu dia mencondongkan tubuhnya sedikit. "Jika kau memang punya bukti, kenapa sampai sekarang aku masih di sini? Kenapa tidak ada satu pun polisi yang menangkapku?"

Kata-katanya seperti cambuk yang menyadarkan Maya.

Dia benar.

Meskipun mereka sudah mengumpulkan bukti, meskipun mereka sudah menghubungi media, Surya masih berdiri di sini, tanpa sedikit pun rasa takut.

Karena dia tahu hukum tidak akan menyentuhnya.

Tapi sebelum Maya bisa membalas, tiba-tiba sebuah batu melayang ke arah kaca mobil Surya.

"Untuk Sumi!"

Braak!

Kaca depan mobil retak.

Semua mata terbelalak. Ari menoleh dan melihat seorang pemuda memegang batu di tangannya, wajahnya penuh amarah.

Itu sudah cukup menjadi pemicu.

Seperti ledakan yang tak bisa dibendung, warga yang marah mulai melemparkan apa saja yang bisa mereka temukan—batu, botol, bahkan spanduk kayu.

Surya segera mundur ke dalam mobil, dan mobilnya melaju kencang meninggalkan lokasi.

Tapi polisi kini punya alasan.

Mereka menyerbu.

Bentrok pecah.

Ari menarik Maya, mencoba mencari jalan keluar dari kekacauan. Di tengah hiruk-pikuk, dia melihat Kholid tetap berdiri di tengah massa, melindungi warga yang lebih tua.

Polisi menghampirinya. Pentungan terayun.

Brakk!

Kholid tersungkur.

Maya berteriak. "KHOLID!"

---

Di Balik Jeruji

Beberapa jam kemudian, Maya, Ari, dan puluhan warga lainnya sudah berada di dalam sel tahanan.

Wajah Kholid lebam, tapi dia masih tersenyum. "Kita sudah membuat mereka takut. Itulah sebabnya mereka menangkap kita."

Maya menghela napas berat. "Tapi mereka masih bebas. Surya masih bebas."

Ari mendekat. "Kita mungkin kalah dalam pertempuran ini, tapi perang belum selesai."

Dia mengangkat ponselnya yang berhasil dia sembunyikan dari polisi.

Di layar, media nasional sedang menayangkan berita besar: 'Bentrok Warga dengan Polisi, Konflik Tanah Memanas'.

Seluruh negeri kini tahu apa yang sedang terjadi.

Dan itu baru permulaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚