KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 7
Bab 7: Jejak dalam Kegelapan
Malam semakin larut, tapi tak ada yang berniat pulang. Balai desa masih dipenuhi warga yang gelisah, dan Kholid berdiri di tengah-tengah mereka, memastikan semangat mereka tetap menyala.
Sementara itu, di sudut ruangan, Maya dan Ari berdiskusi dengan beberapa warga yang mengaku melihat mobil hitam yang membawa Sumi pergi.
"Kalian yakin itu menuju ke kota?" tanya Maya.
Seorang pria tua mengangguk. "Aku melihatnya sendiri. Mobil itu melaju cepat ke arah jalan utama. Tapi ada sesuatu yang aneh—sebelum pergi, mereka berhenti sebentar di dekat gudang kosong di ujung desa."
Ari langsung menangkap petunjuk itu. "Bisa jadi mereka menyembunyikan Sumi di sana sebelum membawanya ke tempat lain."
Maya menatapnya penuh harap. "Kita harus ke sana sekarang."
Kholid, yang sejak tadi memperhatikan, langsung angkat bicara. "Aku ikut. Tidak ada yang tahu seluk-beluk desa ini lebih baik dariku."
Ari menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baik, tapi kita harus bergerak diam-diam. Kalau Surya atau orang-orangnya tahu kita datang, mereka bisa langsung memindahkan Sumi."
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga meninggalkan balai desa dengan motor Ari. Udara malam terasa dingin, tapi ketegangan yang menggantung di antara mereka jauh lebih menusuk daripada angin yang berembus.
---
Gudang Kosong di Pinggir Desa
Ketika mereka tiba, tempat itu tampak gelap dan sunyi. Gudang tua yang sudah lama tak terpakai berdiri di tengah-tengah lahan kosong, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang membuatnya terlihat semakin mencurigakan.
Kholid turun dari motor lebih dulu, matanya tajam mengamati sekitar. "Kalau mereka memang ke sini, pasti ada jejak yang tertinggal."
Ari menyalakan senter dari ponselnya dan mengarahkannya ke tanah. Jejak ban mobil masih terlihat samar di tanah berdebu.
"Mereka memang ke sini," bisiknya.
Maya mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu melihat sesuatu yang mencurigakan—sebuah potongan tali plastik tergeletak di dekat pintu gudang. Ia segera menunjukkannya ke Ari dan Kholid.
"Mungkin mereka mengikat seseorang di sini," katanya pelan.
Kholid mendekati pintu gudang dan menyentuhnya perlahan. "Tidak dikunci dari luar. Kita bisa masuk."
Mereka saling berpandangan. Tak ada yang perlu dikatakan lagi.
Dengan hati-hati, Kholid mendorong pintu kayu yang berderit pelan. Ruangan di dalamnya gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah di atap yang sudah tua. Bau debu dan besi tua memenuhi udara.
Ari mengarahkan senternya ke sudut-sudut ruangan. Sepi. Tak ada tanda-tanda keberadaan Sumi.
Namun, ketika mereka melangkah lebih dalam, Maya tiba-tiba berbisik, "Lihat itu!"
Di lantai, ada jejak darah. Tidak banyak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang pernah berada di sini—dan mungkin mengalami kekerasan.
Jantung Maya berdetak lebih cepat. "Bu Sumi ada di sini tadi. Tapi mereka sudah membawanya pergi."
Ari mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Sial. Mereka selangkah lebih cepat dari kita."
Kholid berjongkok, memperhatikan jejak darah itu dengan serius. "Kalau ini masih basah, berarti mereka baru saja pergi."
Maya memejamkan mata sejenak, mencoba mengendalikan emosinya. "Kita harus tahu ke mana mereka membawanya sekarang."
Ari menatapnya dalam. "Aku akan menghubungi rekanku di kota. Mungkin ada kamera CCTV yang menangkap mobil mereka saat keluar dari desa."
Maya mengangguk, lalu menatap Kholid. "Kita harus tetap menjaga semangat warga. Kalau kita mulai goyah, mereka juga akan kehilangan harapan."
Kholid tersenyum tipis, tetapi matanya masih menyala dengan semangat. "Jangan khawatir. Aku akan memastikan mereka tetap berjuang. Kita tidak akan mundur."
Mereka meninggalkan gudang itu dengan hati yang semakin berat. Sumi masih belum ditemukan, dan Surya Wijaya semakin menunjukkan bahwa dia tak akan berhenti sebelum semua yang menghalanginya hancur.
Tapi yang tidak dia sadari, Maya, Ari, dan Kholid juga tak akan berhenti berjuang.
Tidak sekarang. Tidak selama keadilan masih memiliki kesempatan untuk hidup.
.webp)
Komentar
Posting Komentar