KETIKA PALU TAK LAGI BERDENTUM 10
Bab 10: Perlawanan dari Balik Jeruji
Pintu sel berderit saat seorang petugas membuka kunci. Cahaya dari lorong menyinari wajah-wajah lelah para tahanan. Di dalam ruangan sempit itu, Maya, Ari, Kholid, dan beberapa warga lainnya duduk di lantai dingin, menunggu kabar.
Maya bersandar ke dinding, matanya menerawang. Kejadian siang tadi masih terpatri jelas di benaknya—wajah-wajah marah, suara pentungan menghantam tubuh, dan teriakan warga yang berusaha melawan.
Di sebelahnya, Ari masih sibuk dengan ponselnya. Dia berhasil menyembunyikan perangkat itu selama penggeledahan awal, dan sekarang dia memantau perkembangan di luar.
"Media masih menyorot bentrokan tadi," katanya. "Tapi yang menarik, ada gerakan solidaritas yang mulai muncul di media sosial. Tagar #KeadilanUntukSumi dan #BebaskanKholid sudah trending."
Maya menoleh. "Siapa yang memulai?"
Ari menunjukkan layar ponselnya. "Jurnalis-jurnalis independen, aktivis, dan beberapa mahasiswa. Mereka mulai menyuarakan protes."
Kholid tersenyum meski wajahnya masih lebam. "Berarti kita belum kalah."
Maya mengangguk pelan. "Tapi Surya masih bebas. Dan kita masih di sini."
Ari menatapnya dalam. "Kita mungkin di balik jeruji, tapi kebenaran sudah lepas. Dan kebenaran itu tidak bisa mereka tangkap."
---
Permainan Kotor di Balik Layar
Sementara itu, di tempat lain, Surya Wijaya duduk di sebuah ruangan ber-AC dengan beberapa pejabat tinggi.
Di depannya, seorang pria berpakaian resmi membaca laporan dengan ekspresi datar.
"Situasi mulai tak terkendali," kata pria itu. "Kalian terlalu ceroboh. Membiarkan media menangkap insiden bentrokan itu adalah kesalahan besar."
Surya menyilangkan tangan di dada. "Polisi yang bertindak bodoh. Aku hanya ingin demonstrasi itu dibubarkan."
Pria lain—seorang perwira polisi berpangkat tinggi—mendecakkan lidahnya. "Sekarang bukan waktunya menyalahkan siapa pun. Yang jelas, tekanan publik meningkat. Jika kita tidak segera mengendalikan narasi, mereka bisa menuntut penyelidikan lebih lanjut."
Seorang pria berkacamata, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Maya dan Ari masih di tahanan, bukan?"
Perwira polisi mengangguk. "Ya. Tapi kami tidak punya alasan kuat untuk menahan mereka lebih lama. Kalau kita menekan terlalu keras, malah bisa jadi bumerang."
Surya mendengus. "Kalau begitu, kita harus memastikan mereka tidak bisa melanjutkan perlawanan ini."
Pria berkacamata tersenyum tipis. "Ada banyak cara untuk membuat orang seperti mereka diam."
---
Kebebasan yang Berharga
Keesokan harinya, pintu sel kembali terbuka.
Seorang petugas masuk, membawa daftar nama. "Ari Rahman, Maya Pranoto, Kholid. Kalian bebas."
Sejenak, ruangan itu hening.
Maya bangkit dengan ekspresi curiga. "Bebas? Begitu saja?"
Petugas itu tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat agar mereka segera keluar.
Saat melangkah keluar dari kantor polisi, mereka disambut oleh puluhan wartawan. Kilatan kamera langsung mengarah ke wajah mereka, sementara mikrofon dan pertanyaan bertubi-tubi datang dari segala arah.
"Bagaimana kondisi di dalam?"
"Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"
"Apakah kalian akan terus melawan Surya Wijaya?"
Maya dan Ari saling bertukar pandang. Kholid berdiri di antara mereka, tetap tegap meskipun tubuhnya masih terasa sakit.
Ari mengambil langkah pertama ke depan. "Kami tidak akan berhenti. Dan kami tidak akan takut."
Maya melanjutkan, suaranya tegas. "Ini bukan sekadar soal tanah. Ini tentang hukum yang harus ditegakkan. Dan kami akan memastikan keadilan benar-benar ditegakkan."
Sorak-sorai pendukung mereka terdengar di kejauhan.
Maya tahu—ini baru permulaan.
Dan perang ini masih jauh dari selesai.
.webp)
Komentar
Posting Komentar