Seragam Coklat 4

Bab 4: Celah dalam Jaringan

Di sebuah gudang tersembunyi di pinggiran kota, Bayu berdiri dengan gelisah di depan peta besar yang menampilkan rute pengiriman solar subsidi ilegal. Cahaya redup dari lampu neon tua membuat bayangannya tampak bergetar di dinding. Malam itu seharusnya berjalan seperti biasa—truk-truk berangkat tanpa gangguan, solar dikirim ke kontraktor yang sudah menjadi pelanggan tetap, dan uang masuk tanpa jejak.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Bayu menerima kabar dari salah satu sopir truk mereka, Riko, bahwa salah satu pengiriman mereka dicegat oleh polisi di luar rencana. Ini bukan razia biasa—tim yang menghentikan truk mereka tampaknya tahu persis apa yang mereka bawa dan rute mana yang mereka ambil.

Wajah Bayu memucat saat ia menghubungi Wahyu, jarinya gemetar saat menekan tombol panggilan.

“Yu, kita ada masalah,” suara Bayu terdengar serak. “Salah satu truk kita dicegat. Polisi, tapi bukan orang kita.”

Di ujung telepon, Wahyu mengumpat pelan. Ia sedang duduk di ruang kerjanya di rumah, berusaha menenangkan pikirannya setelah pertengkaran dengan Devi dan ketegangan dengan Rina. Masalah ini datang di saat yang paling buruk.

“Kamu yakin mereka bukan orang kita?” tanya Wahyu dengan suara rendah tapi tajam.

“Yakin, Yu. Mereka tahu persis apa yang kita bawa. Kayaknya ada yang bocor.”

Kata-kata itu membuat Wahyu terdiam. Ada yang bocor. Kemungkinan itu menghantui pikirannya, terutama setelah ancaman Devi. Tapi Devi tidak mungkin tahu detail operasi mereka. Atau… apakah dia tahu lebih banyak dari yang Wahyu kira?

“Jangan panik,” akhirnya Wahyu berkata. “Amankan sopirnya. Jangan sampai dia ngomong. Aku akan cek dari dalam.”

Bayu mengangguk meskipun Wahyu tidak bisa melihatnya. “Baik, Pak.”

Setelah menutup telepon, Wahyu menatap dinding kosong di depannya. Dia harus bertindak cepat sebelum semuanya lepas kendali.

Keesokan Harinya

Wahyu kembali ke markas polisi dengan wajah datar seperti biasa. Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah mantap, menyapa beberapa rekan yang lewat dengan anggukan singkat. Namun, pikirannya terus bekerja, mencoba mencari tahu siapa yang berani mengusik jaringan mereka.

Sesampainya di ruang kerjanya, Wahyu membuka laptop dan mulai mengakses data operasi kepolisian terbaru. Ia mencari informasi tentang razia yang terjadi semalam. Matanya menyipit saat menemukan nama Kompol Andri, kepala satuan baru yang dipindahkan dari daerah lain. Wahyu belum pernah berurusan dengan Andri sebelumnya, tapi nama itu mulai terasa seperti ancaman.

Sementara itu, di sudut lain kota, Devi duduk di kafe yang sama tempat ia bertemu Wahyu sebelumnya. Kali ini, ia bertemu dengan Lani, sahabatnya yang sudah lama memperingatkannya tentang hubungan dengan Wahyu.

“Kamu serius mau ngelawan dia, Dev?” tanya Lani, menatap Devi dengan cemas. “Wahyu itu bukan orang biasa. Dia polisi, dia punya koneksi. Kamu tahu risiko ini?”

Devi mengangguk pelan, matanya penuh tekad. “Aku nggak peduli, Lan. Ini soal Yasmin. Aku nggak mau anakku tumbuh dalam kebohongan. Kalau aku harus buka semuanya, aku akan lakukan.”

Lani menghela napas, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah flashdisk kecil yang ia letakkan di meja.

“Aku punya sesuatu,” kata Lani. “Temanku kerja di kantor polisi. Dia nggak sengaja nemuin data tentang operasi gelap Wahyu. Aku nggak tahu seberapa dalam ini, tapi kalau kamu butuh bukti, ini mungkin bisa bantu.”

Devi menatap flashdisk itu dengan campuran rasa takut dan harapan. Ini bisa menjadi senjata untuk melawan Wahyu, tapi juga bisa membawa bahaya besar bagi dirinya dan Yasmin.

“Aku akan pikirkan ini,” kata Devi akhirnya, menyimpan flashdisk itu di tasnya.

Di Markas Polisi

Wahyu akhirnya memutuskan untuk mendekati Kompol Andri secara langsung. Ia mengetuk pintu kantor Andri dengan senyum palsu, mencoba memancarkan aura ramah.

“Pak Andri, saya dengar ada operasi semalam. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Wahyu sambil duduk di depan meja Andri.

Andri menatap Wahyu dengan tajam, matanya seperti mencoba membaca pikiran Wahyu. “Operasi rutin saja, Pak Wahyu. Tapi anehnya, kami menemukan truk solar subsidi yang seharusnya nggak ada di rute itu.”

Wahyu tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan. “Oh, mungkin ada kesalahan logistik. Biasalah, kontraktor suka ngakal-ngakalin dokumen.”

Andri tidak tertawa. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Wahyu lebih dalam. “Saya harap memang begitu, Pak Wahyu. Tapi kalau ada yang main belakang, saya akan pastikan semuanya terungkap.”

Wahyu merasa darahnya mendidih, tapi ia tetap tenang. “Tentu, Pak. Saya juga ingin semuanya berjalan sesuai aturan.”

Setelah keluar dari ruangan Andri, Wahyu tahu waktunya hampir habis. Tekanan datang dari semua arah—Devi, Rina, dan sekarang polisi yang benar-benar menjalankan tugasnya. Wahyu harus membuat keputusan cepat sebelum semuanya hancur.

Malam Hari

Di apartemennya, Devi duduk termenung sambil memegang flashdisk yang diberikan Lani. Ia tahu ini bisa menjadi kunci untuk menghentikan Wahyu, tapi juga bisa mengundang bahaya besar. Yasmin sudah tertidur di kamar, wajahnya damai tanpa tahu apa yang sedang terjadi di dunia orang dewasa.

Devi akhirnya memutuskan. Ia akan menghubungi seseorang di media untuk membocorkan informasi ini. Jika hukum tidak bisa menyentuh Wahyu, maka publik akan menjadi senjata terbesarnya.

Tapi sebelum sempat melakukan apa-apa, ponselnya berdering. Nama Wahyu terpampang di layar.

Dengan tangan gemetar, Devi menjawab. “Ada apa?”

“Aku tahu apa yang kamu lakukan, Devi,” suara Wahyu terdengar dingin dan mengancam. “Kamu pikir kamu bisa menang? Kamu nggak tahu siapa yang kamu lawan.”

Devi menelan ludah, tapi ia tidak mundur. “Aku nggak takut, Yu. Aku akan pastikan semua orang tahu siapa kamu sebenarnya.”

Wahyu tertawa pelan di ujung telepon. “Kita lihat saja, Devi. Kita lihat siapa yang bertahan paling lama.”

Telepon terputus, meninggalkan Devi dalam diam yang menakutkan. Tapi satu hal yang ia tahu pasti—perang ini sudah dimulai, dan tidak ada jalan untuk mundur.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚