Seragam Coklat 2

 Bab 2: Devi, Cinta Terlarang

Pagi hari di apartemen Devi dimulai dengan suara tawa kecil Yasmin yang bermain di lantai ruang tamu. Matahari Jakarta menembus tirai tipis, memantulkan cahaya hangat di dinding. Devi duduk di sofa dengan tatapan kosong, secangkir kopi di tangannya yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Pikiran Devi melayang pada percakapan semalam dengan Wahyu—jawaban dingin yang lagi-lagi membuat hatinya terasa hampa.

Yasmin, yang berusia empat tahun, berlari ke arah Devi sambil membawa boneka beruang kecil. “Mama, Papa mana? Kok Papa nggak pernah main sama Yasmin?” tanyanya polos.

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang bisa Devi bayangkan. Ia menatap mata anaknya yang penuh harapan, mata yang sama seperti milik Wahyu. Devi mengusap rambut Yasmin dengan lembut, mencoba tersenyum meski hatinya bergetar.

"Papa lagi kerja, sayang. Nanti kalau Papa sempat, Papa datang, ya?" Jawaban yang sama, berulang-ulang, hingga Devi sendiri mulai muak mendengarnya.

Setelah Yasmin kembali bermain, Devi mengalihkan pandangannya ke layar ponsel. Tidak ada pesan dari Wahyu. Tidak ada kabar setelah semalam. Devi menghela napas panjang, membuka galeri foto dan menatap gambar-gambar kenangan mereka bertiga. Waktu itu, Wahyu tampak bahagia menggendong Yasmin yang masih bayi. Tapi momen-momen seperti itu semakin jarang terjadi, digantikan dengan janji-janji kosong dan alasan yang tak berujung.

Devi mengenang bagaimana ia bertemu dengan Wahyu, di sebuah acara pertemuan bisnis kecil-kecilan yang tak disengaja. Awalnya hanya obrolan ringan, kemudian pertemuan-pertemuan berikutnya penuh tawa dan perhatian. Wahyu membuat Devi merasa istimewa—hingga Devi tahu bahwa ia bukan satu-satunya perempuan dalam hidup Wahyu. Tapi saat itu, sudah terlambat. Devi sudah terjebak dalam cinta yang salah, dengan janji-janji manis yang perlahan berubah menjadi pahit.

Pikiran Devi terhenti saat ponselnya bergetar. Bukan dari Wahyu, tapi dari sahabatnya, Lani.

Lani: “Devi, kamu sampai kapan begini terus? Kamu harus bikin keputusan. Kamu punya hak, Yasmin juga.”

Devi menatap pesan itu lama, sebelum akhirnya meletakkan ponselnya dengan kesal. Kata-kata Lani benar, tapi memutuskan untuk melawan Wahyu bukan perkara mudah. Wahyu bukan sekadar lelaki sembarangan—dia seorang polisi, punya kuasa, dan Devi tahu betul betapa berbahayanya orang seperti dia.

Namun, ketegangan batin Devi semakin memuncak. Ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang, menjadi rahasia yang hanya disinggahi Wahyu saat bosan atau butuh pelarian. Yasmin pantas mendapatkan ayah yang hadir, bukan sosok bayangan yang hanya datang saat convenient.

Siang itu, Devi memberanikan diri menghubungi Wahyu. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua juga. Baru pada panggilan ketiga, suara berat Wahyu akhirnya terdengar.

"Ada apa, Devi? Aku lagi sibuk," jawab Wahyu, terdengar tidak sabar.

Devi menarik napas panjang sebelum menjawab, berusaha menahan emosi yang mendidih.

"Kita harus bicara, Yu. Ini penting. Tentang Yasmin... dan tentang kita."

Suasana di ujung telepon hening beberapa detik sebelum Wahyu menjawab, "Nanti malam aku datang."

"Tidak. Aku mau kita ketemu di tempat netral. Aku nggak mau di apartemen terus, seolah-olah aku ini cuma pelarianmu."

Wahyu terdiam, dan Devi tahu dia tidak suka ditekan. Tapi kali ini, Devi tidak akan mundur.

"Aku kasih alamatnya nanti. Kalau kamu nggak datang, aku tahu apa yang harus kulakukan." Devi menutup telepon sebelum Wahyu sempat membalas.

Tangannya gemetar saat meletakkan ponsel, tetapi di dalam hatinya, ada sedikit keberanian yang baru pertama kali ia rasakan setelah bertahun-tahun terjebak dalam hubungan rahasia ini.

Malam itu akan menjadi awal dari perubahan. Devi tahu risikonya, tapi ia sudah lelah menjadi bayang-bayang. Ia ingin Yasmin punya masa depan yang jelas, dan jika itu berarti melawan Wahyu, maka ia siap menghadapi apapun konsekuensinya.

Sementara itu, di tempat lain, Wahyu menatap ponselnya dengan rahang mengeras. Ancaman halus Devi membuatnya kesal, tetapi ia tahu Devi bukan perempuan bodoh. Jika Devi benar-benar nekat, semua yang telah Wahyu bangun selama ini bisa runtuh dalam sekejap.

Di benaknya, Wahyu mulai merencanakan langkah berikutnya. Ia tidak bisa membiarkan Devi mengacaukan semuanya. Tapi apakah ia masih bisa mengendalikan situasi, ataukah semua ini sudah terlalu jauh untuk diperbaiki?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

📢 PENAWARAN KHUSUS UNTUK SEKOLAH! 📚